Ronta adalah salah satu desa yang berada diwilayah kecamatan Lembo Raya
Kabupatem Morowali Utara, dimana masyarakatnya hidup dalam tatanan budaya
dan tradisi Suku Watu atau yang sering dikenal dengan sebutan “Mia Towatu"
Pada mulanya nenek moyang orang Ronta berasal dari suatu tempat yang
bernama “Pu'uwatu", yaitu suatu daerah di Sulawesi Tenggara. Melihat dari postur
tubuh, warna kulit, rambut, Bahasa, pemberian nama pada laki-laki banyak
menggunakan “ La" dan pada perempuan banyak menggunakan "Wa/We"' serta seni
budaya khususnya Lulo dan cakalele ( momaani ) begitu juga dengan adat istiadat
terutama pada acara-acara perkawinan memiliki banyak kemiripan dengan suku Tolaki
sehingga dapat dipastikan bahwa orang Ronta berasal dari suku Tolaki. Hal ini sesuai
dengan asal usul suku Towatu.
Diperkirakan pada abat ke 16 sekelompok keluarga lebih kurang 7 orang karena
sesuatu hal mereka meninggalkan “Pu'uwatu" lalu mereka berpindah-pindah dari suatu
tempat ketempat lain dan pada akhirnya mereka tiba disuatu tempat yang tanahnya
subur. Tempat itu bernama “Pa'awatu"yaitu daerah yang berada di Sulawesi Tengah.
Setelah mereka berdiam cukup lama ditempat itu dan jumlah mereka semakin
bertambah banyak, maka mereka sepakat untuk berbagi daerah dan membentuk
kelompok -kelompok kecil yang wilayahnya meliputi; Pu'uwana, Kokarea, Pontadu,
Wulisi, Bea'u — Watu rede, Meruruno, Tidawita- Umbele
Pada abat ke 17 kepala-kepala kelompok tersebut sepakat untuk mengangkat
seorang pemimpin " Petewawo",yang disebut Tadulaku dan yang merupakan kepala
suku Watu pertama yaitu bernama To’anau dengan gelar “wawa inia”. Setelah didaerah
Mori mempunyai seorang Raja { Mokole ) maka “To’anau” diangkat sebagai “Karua”
atau “ Sarung Karu “ merupakan satu jabatan mewakili Raja Mori diwilayah Suku Watu
dimana saat itu suku watu telah memiliki 7 wilayah kekuasaan didaerah Mori.
Beberapa tahun kemudian setelah terjadi perang antar suku, maka mereka bersatu
kembali dan membuat perkampungan baru bernama “ Pansu “yang saat itu dipimpin
oleh “Karua” yang terakhir bernama “ Taralalu “. Di“ Pansu” inilah mereka membangun
benteng pertahanan karena menjadi tempat pusat kepemimpinan saat itu. Orang hanya bisa keluar masuk benteng dengan naik dan turun melewati pansu yaitu tangga
yang terbuat dari satu batang kayu yang bulat.
Setelah perang antar suku sudah aman, maka mereka terpencar kembali dan
mencari lokasi yang baru sebagai berikut:
1. Sebagian kecil pindah ke waturede dan mereka inilah yang akhirnya membangun
dan tinggal di desa Lemboroma sekarang ini
2. Sebagian pindah ke Tabewatu dan mereka inilah yang akhirnya membangun dan :
tinggal didesa Mohoni, Pebooa, Keuno
3. Sebagian lagi diutus ke Bungku untuk menjaga batas Bungku dan Mori kemudion
mereka membangun dan tinggal didesa Solonsa, Ungkaea, Emea
4. Sebagian besar masih tetap bertahan di Pansu dan akhirnyamembangun Desa
Ronta, Petumbea, Sabanga, Korosule.
Masyarakat Ronta pertama membangun perkampungan Kurang lebih Setengah kilo Meter dari "Pansu”.
Nama Ronta mengandung arti berkelimpahan. Kata Ronta. di ambil dari
Bahasa Towatu dari kata “Roonta “ yang artinya buah yang jatuh dari pohon atau : berjatuhan karena sudah matang. Buah yang jatuh berserakan diatas tanah tidak
habis dimakan atau diambil, itulah yang dimaksud telah berkelimpahan.
Tatanan hidup bermasyarakat dan beragama telah dinikmati begitu baik oleh
masyarakat Ronta, namun sekitar tahun 1956 gerombolan Kahar Muzakar datang
merusakan kehidupan Jemaat dan masyarakat pada saat itu, sehingga seluruh
masyarakat dipindahkan ketempat yang baru yang jaraknya + 15 Km bagian utara
dimana Desa Ronta berada sampai saat ini.
Desa Ronta memiliki luas 72.000 Ha, Sejak terbentuknya Desa Ronta terdiri dari 4 (empat) Dusun, berdasarkan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, pada tahun 2012 Desa Ronta melaksanakan Pemekaran Dusun menjadi 5 (lima) Dusun, sehingga wilayah Desa Ronta bertambah menjadi 5 (lima) Dusun dan 10 (sepuluh) RT dan pada tahun 2018 Desa Ronta melaksanakan perampingan Dusun menjadi 3 (tiga) Dusun dan 6 (enam) RT. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara Desa Pontangoa
Sebelah Selatan Desa Petumbea
Sebelah Barat Desa Petumbea
Sebelah Timur Desa Bintangor Mukti.
Adapun pejabat - pejabat yang pernah memimpin, baik itu jabatan sebagai
Karua, Kepala Kampung dan Kepala Desa sejak di Pansu tahun 1901 sampai di Desa
Ronta saat ini sbb:
|
No
|
NAMA
|
JABATAN
|
PERIODE
|
KET
|
|
1
|
TO’ANAU
|
KEPALA KAMPUNG
|
1901-1912
|
|
|
2
|
TARALALU
|
KEPALA KAMPUNG
|
1913-1924
|
|
|
3
|
MAROTA WAGA
|
KEPALA KAMPUNG
|
1925-1932
|
|
|
4
|
KANTA SUDA
|
KEPALA KAMPUNG
|
1932-1933
|
|
|
5
|
B. PANDU’U
|
KEPALA KAMPUNG
|
1933-1936
|
|
|
6
|
T. MAKALELANTI
|
KEPALA KAMPUNG
|
1937-1943
|
|
|
7
|
TANGKASUDA
|
KEPALA KAMPUNG
|
1943-1944
|
|
|
8
|
M. SAKI
|
KEPALA KAMPUNG
|
1945-1953
|
|
|
9
|
ND. TARALALU
|
KEPALA KAMPUNG
|
1954-1958
|
|
|
10
|
S. SANAMPE
|
KEPALA KAMPUNG
|
1959-1984
|
|
|
11
|
KR. RUMINGGO
|
KEPALA DESA
|
1985-2000
|
|
|
12
|
Y. MARAMPALI
|
KEPALA DESA
|
2000-2007
|
|
|
13
|
ARIS RONI SAKI
|
KEPALA DESA
|
2007-2011
|
|
|
14
|
ALBERT KASIO
|
PLT KADES
|
2011-2012
|
|
|
15
|
YAPRIL MAREOLI
|
KEPALA DESA
|
2012-2022
|
|
|
16
|
BERKAT UTAMA LEMANGGA,S.Pd
|
KEPALA DESA
|
2022-Sekarang
|
|
Batas wilayah Desa Ronta sebagai berikut :
- Sebelah Utara Desa Pontangoa
- Sebelah Selatan Desa Petumbea
- Sebelah Barat Desa Petumbea
- Sebelah Timur Desa Bintangor Mukti
Demikian selanyang pandang atau sejarah singkat Desa Ronta yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat Medsos, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.