Seminar Adat Mori Tongku Watu Membangun Kebersamaan dalam Persamaan Budaya dan Adat Istiadat
Pembukaan Seminar Adat Mori “Tongku Watu”: Membangun Kebersamaan dalam Persamaan Budaya dan Adat Istiadat
Desa Ronta, 11 November 2024 – Bertempat di Balai Tepo Asoa Desa Ronta, Kerukunan Keluarga Mori Tongku Watu (KKMTW) menyelenggarakan seminar adat bertajuk "Tongku Watu" yang berlangsung selama dua hari, dari tanggal 11 hingga 12 November 2024. Dengan tema "Membangun Kebersamaan dalam Persamaan Budaya dan Adat Istiadat sebagai Manifestasi dalam Kerukunan Keluarga Mori Tongku Watu," seminar ini menjadi wadah untuk mempererat persatuan masyarakat suku Mori Towatu, sekaligus mengokohkan kesadaran dan pelestarian budaya lokal.
Acara ini dibuka secara resmi oleh PJS Bupati Morowali Utara, yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati, Dr. Delnan Lauende, M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Delnan menyampaikan pesan mengenai pentingnya menguatkan kerukunan dan semangat kebersamaan antar masyarakat adat Mori Towatu. “Tongku Watu adalah representasi dari akar budaya kita yang kaya. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan meningkatkan kesadaran kita akan nilai luhur budaya yang perlu kita jaga dan lestarikan bersama,” ujar Dr. Delnan.
Turut Hadir Berbagai Pemangku Kepentingan
Pembukaan acara ini juga dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat, antara lain:
- Kapolres Morowali Utara yang diwakili oleh Kabag Sumda, Kompol Marthen Ratu.
- Ketua Dewan Adat Mori Morowali Utara, Drs. Julius Pode, yang turut memberikan pandangan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai adat dan budaya Mori.
- Kepala Dinas Pariwisata Daerah Morowali Utara, yang membahas tentang potensi budaya sebagai daya tarik pariwisata daerah.
- Kepala Dinas P2KBP3A (Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana).
- Ketua dan Pengurus Kerukunan Keluarga Mori Tongku Watu sebagai tuan rumah dan penyelenggara acara.
- Camat Lembo Raya, yang mewakili pemerintahan kecamatan dalam menyambut baik kegiatan ini.

Selain itu, acara ini diikuti oleh para kepala desa, lembaga adat, dan tokoh pemuda dari sekitar 15 desa yang didiami oleh masyarakat suku Mori Towatu di wilayah Kabupaten Morowali dan Morowali Utara. Desa-desa yang hadir dalam kegiatan ini antara lain: Bintangor Mukti, Ronta, Pontangoa, Petumbea, Jamor Jaya, Lemboroma, Molino, Towara, Peboa, Emea, Ungkaya, Umbele, Solonsa, Keuno, dan Mohoni.
Memperkuat Kebersamaan melalui Tongku Watu
Kegiatan seminar ini menekankan pentingnya pelestarian adat dan budaya Mori Towatu sebagai bagian dari identitas masyarakat. Dengan diskusi dan sesi berbagi yang dihadiri oleh tokoh adat, tokoh pemuda, serta masyarakat desa, peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan memperkaya pemahaman akan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Dewan Adat Mori Morowali Utara, Drs. Julius Pode, dalam sambutannya, mengingatkan peserta tentang pentingnya “Tongku Watu” sebagai simbol persatuan dan perdamaian dalam suku Mori Towatu. “Tongku Watu bukan sekadar simbol, tapi juga filosofi hidup yang mengajarkan kita tentang kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga tradisi yang menjadi fondasi kerukunan kita,” ujar Julius.
Harapan dan Kesinambungan Acara
Melalui seminar ini, masyarakat adat Mori Towatu berharap dapat mewariskan nilai-nilai budaya dan adat istiadat kepada generasi muda, sekaligus meningkatkan solidaritas antar anggota masyarakat adat.
Acara seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, namun juga dapat memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan budaya Mori Tongku Watu di tengah perkembangan zaman. Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Tongku Watu diharapkan tetap menjadi simbol kekuatan, persatuan, dan kebanggaan bagi masyarakat suku Mori Towatu di Morowali dan Morowali Utara.