Peresmian dan Gunting Pita Tugu Pedang Desa Ronta oleh Bupati Morowali Utara
Jumat, 10 April 2026, Desa Ronta kembali mencatatkan momen bersejarah melalui kegiatan Peresmian dan Gunting Pita Tugu Pedang yang dilaksanakan dengan penuh khidmat. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi, yang merupakan putra asli sekaligus kebanggaan masyarakat Desa Ronta.
Kedatangan Bupati disambut hangat oleh Kepala Desa Ronta, Berkat Utama Lemangga, S.Pd, bersama seluruh jajaran Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh agama, lembaga adat, serta seluruh lapisan masyarakat Desa Ronta. Meskipun cuaca tampak mendung dan hujan sedang turun, hal tersebut tidak sedikit pun mengurangi semangat dan antusiasme masyarakat untuk mengikuti rangkaian kegiatan ini.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Dinas DP2KBP3A, unsur Kecamatan Lembo Raya yang diwakili oleh Sekretaris Camat, serta Danramil Lembo, yang semakin menambah khidmatnya acara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi penyambutan Bupati, dilanjutkan dengan laporan oleh Kepala Desa Ronta serta pengalungan bunga sebagai bentuk penghormatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa syukur yang dipimpin oleh Pdt. D. Randalongi, S.Th, sebelum memasuki prosesi utama yaitu pengguntingan pita sebagai tanda resmi diresmikannya Tugu Pedang Desa Ronta.
Sebelum sambutan-sambutan, Sekretaris Lembaga Adat Desa Ronta, Bapak J. Sidaluwu, menyampaikan makna filosofis Tugu Pedang.
{Tugu Pedang yang berdiri kokoh di tengah – tengah desa Ronta saat ini terbangun dari suatu Inspirasi bahwa leluhur kita menggangpa “ Pedang dan Tombak “ sebagai simbol kehidupan dan perlindungan
Hal ini di nyatakan bahwa:
- Salah satu syarat dalam perkawinan suku Watu Adalah parang atau pedang sebagai tanda bahwa laki laki telah sanggup untuk menghidupi keluarga
- Bila seorang laki laki tidak memiliki pedang atau parang, di pertanyakan bahwa dia akan hidup dengan apa
- Dalam perkawinan suku watu bila pasangan pengantin perempuan tidak bisa hadir saat hari perkawinan, maka pengantin Perempuan “ Metaroako tampi “ yaitu berpasangan dengan parang atau pedang sebagai pengganti pengantin laki – laki
- Bila laki laki meninggalkan rumah, maka parang atau pedang inilah yang sering di masukan oleh istri di dalam kamar merupakan pelindung sebagai penganti suami atau laki laki
- Dalam hukum adat perkawinan towatu, bila laki laki berzinah yaitu merebut istri orang lain maka dia mendapat hukuman yaitu turun dari rumah dengan pakaian di badan namun masih di beri kesempatan untuk hidup mencari nafkah dengan memperbolehkan membawa 1 (Satu) buah parang dengan sarungnya “ Meti Koko Tampi”
Tugu Pedang yang kita saksikan di desa Ronta memberi makna yaitu mengingatkan kepada Generasi mudah untuk berjuang hidup dengan sekuat tenaga artinya dengan bermodalkan pedang atau parang kitab isa hidup tanpa mengharapkan warisan
Pedang Adalah lambing Kecerdasan Putra Towatu karena laki laki sebagai pejuang kehidupan serta perlindungan bagi kaum lemah.
4 pedang dengan posisi segi empat penjuru mata angin hendak memperlihatkan kepada kita sikap hidup tolong menolong sebagai wujud “ TepoAsoa Moroso” atau hidup gotong royong
Dan tombak sebagai sumbuh merupakan symbol keberanian untuk memancarkan nilai nilai kehidupan dengan suatu harapan dan keyakinan yang teguh pada sang pencipta }
Dalam sambutannya, Kepala Desa Ronta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Morowali Utara atas dukungan pembangunan Tugu Pedang. Beliau juga menegaskan bahwa saat ini Desa Ronta telah memiliki tiga simbol budaya yang menjadi kebanggaan, yaitu Rumah Adat Towatu, Tugu Patung Karua Towatu, dan Tugu Pedang Desa Ronta.
Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Morowali Utara menyampaikan bahwa Tugu Pedang bukan sekadar bangunan fisik, tetapi merupakan simbol kecerdasan, keberanian, dan jati diri masyarakat Towatu. Hal ini terbukti dari banyaknya putra-putri Towatu yang telah dan sedang menjadi pemimpin di berbagai daerah. Beliau juga berpesan agar seluruh masyarakat terus menjaga, merawat, dan melestarikan simbol-simbol budaya yang telah dibangun sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan, nilai budaya, dan rasa cinta terhadap desa tetap hidup dan terjaga di tengah masyarakat Desa Ronta. Diharapkan, keberadaan Tugu Pedang ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi seluruh masyarakat untuk terus maju, berdaya, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur budaya lokal. #JF. S